Sahabat nabi pun tidak semua ahli dalam memahami Al-Qur'an
Akhir-akhir ini kita sering mendengar selogan "Kembali kepada Al-Qur'an dan hadist. Ada suatu cerita yang berkaitan dan menarik untuk di simak. Tuan Guru Bajang pada 1 Juli 2026 dalam akun instagramnya bercerita :
Suatu ketika Gubernur Bahrain Qudamah Bin Mazh'un diadukan kepada Khalifah Umar Bin Khattab karena minum khamar.
Saat diklarifikasi, Qudamah mengaku dan berdalil dengan ayat 93 QS Al-Maidah yang artinya: "Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan mengenai apa yang mereka makan , apabila mereka bertakwa dan beriman, serta mengerjakan kebajikan, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, lalu mereka tetap bertakwa dan berbuat kebajikan. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan."
Kata Qudamah, "Aku beriman dan bertakwa, jadi sesuai ayat ini aku boleh makan dan minum apa saja".
Umar menengok kepada para sahabat yang hadir di majlis itu untuk menjelaskan tentang ayat ini.
Ibnu Abbas mengatakan," Dia (Qudamah) gagal paham. Ayat ini turun sebagai jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan sebagian sahabat kepada Nabi tentang nasib orang tua mereka yang wafat sebelum turun ayat pengharaman khamar. Maka ayat ini menjawab bahwa mereka tidak berdosa walaupun mati dalam keadaan masih suka minum khamar, karena larangan belum turun saat itu".
Peristiwa ini menunjukkan bahwa hatta para sahabat pun tidak selevel dalam memahami Al-Qur'an. Sekelas Qudamah Bin Mazh'un yang merupakan sahabat senior, ikut perang Badar dan dipercaya sebagai gubernur Bahrain juga bisa salah fatal.
Karena itu, slogan "Ayo Kembali Kepada Al-Qur'an Dan Hadis!" harus diimbangi penguasaan ilmu yang cukup. Kalau tidak, agama bisa rusak.
Rujuklah para ulama yang muktabar seperti para imam yang empat dan mereka yang punya sanad yang jelas.